Anak adalah harapan satu-satunya bagi orang tua. Sebagian besar orang
tua menginginkan generasi penerusnya sukses sebagaimana orang
tuanya. Bahkan lebih sukses lagi melebihi dari apa yang
diharapkan. Melihat kenyataan sekarang harapan orang tua seperti itu
terkadang bertolak belakang dengan kenyataannya. Ada anak yang sulit sekali
menerima materi pelajaran sekolah, dan ada pula anak yang cepat menerima materi
pelajaran dari gurunya. Di sisi lain kita juga sering kali mendengar
pengakuan dari anak–anak secara jujur. Guru ada yang
menakutkan,membosankan, menjengkelkan dan lain-lain. Kalau benar
yang terjadi demikian.. maka bisa jadi anak – anak di kelas hanya menemukan
buku pelajaran, bangku sekolah, mencatat, dan tidak pernah menemukan media
belajar. Padahal usia anak di tingkat Sekolah Dasar adalah usia pertumbuhan.
Dalam usia pertumbuhan inilah masa usia emas untuk memacu semua aspek
pribadi anak antara lain fisik, psikis, mental, dan spiritual yang bermutu.
Sehingga Jangan sampai berhari-hari rutinitas yang dilakukan
anak-anak,
1. hanya menulis, membaca buku, dan
mendengarkan guru berceramah. Sementara itu hal–hal yang dibutuhkan anak justru
tidak didapat. Seperti membongkar, membangun, bereksperimen, merancang, merencanakan,
berkomunikasi serta memecahkan masalah. Anak tidak bisa menikmati lezatnya
belajar.
2. Setiap hari guru seringkali
meninggalkan kelas. Guru hanya memberi tugas, PR, menagih tugas, sambil marah,
dan sebagainya. Tentu suasana yang seperti itu dirasa anak kurang nyaman tidak
bisa menikmati. Sekolah sudah kehilangan maknanya sebagai wahana
pendewasaan bagi seluruh penghuni di dalamnya. Serta penanaman ide, gagasan,
dan kreatifitas otoritas-otoritas yang bersinggungan dengan keberadaannya.
Kalau yang terjadi sudah seperti itu, berarti
tidak ada bedanya sekolah dengan penjara. Ruang-ruang kelas bagi siswa,
lebih mirip dengan kerangkeng. Pintu-pintu yang tertutup ketika pelajaran
berlangsung, akan merusak cakrawala optik alternatif, bangku-bangku yang memaku
tubuh anak-anak menyebabkan sedikitpun anak tidak bisa bergerak, dan
guru-guru mirip sipir penjara, marah jika dikritik, menolak jika ada usulan,
membentak jika ada kesalahan, bahkan memukul ketika ada yang dirasanya pantas
dipukul. Sehingga wajar ketika anak mendengar bel pulang berbunyi, apa yang
terjadi? Anak langsung bersorak sorei “ Hore aku bebas “ mungkin itu yang akan
diucapkan anak ketika keluar dari kelasnya.
Gambaran
sekolah yang demikian dirasakan oleh anak kurang menginspirasi dan membosankan.
Untuk itu keadaan yang seperti ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Harus
kita rubah strategi, model, dan pola pikir kita untuk menghantarkan anak
sukses. Kita sebagai guru yang Profesional harus segera mengambil langkah yang
cepat, tepat, akurat, dan kreatif. Dalam media KOMPAS.com disampaikan
bahwa “ Seorang guru harus bisa membangun iklim komunikasi yang baik
dengan siswanya, agar para siswa mengerti apa yang disampaikan, dan membuat
aktivitas belajar berjalan menjadi lebih efektif, kreatif, dan
menginspirasi.